namasayaume

yellow mellow hellow

May 14, 2013 6:17 am May 12, 2013 7:26 pm

Shampo kuda

  • Salon, minggu 13 mei 2013
  • Melissa : ka ume, si amna yah, rambutnya tipis bgt, trs dia pake shampo kuda! Rambutnya tebelan dong skrg
  • Aku : hah iyah? Shampo kuda itu shampo buat kuda?
  • Melissa : iyah ka, shampo kuda
  • Aku : hoooh?! Mau dong drmn si amna beli?
  • Melissa : iyah dia beli di korea! Mahal bgt ka sebotol 600rb kalo ga salah! Tp emg rambutnya tebelan ka!
  • Aku : ...
  • Aku : atuhlah ... Ya kasian juga kalo jauh2 ke korea, beli shampo buat kuda, mahal lagi, trs ga mempan ... Sedih ...
April 7, 2013 9:33 pm
ayuprissa:

9gag:

Hugs keep us alive!

lovely :’)

ayuprissa:

9gag:

Hugs keep us alive!

lovely :’)

December 6, 2012 11:15 pm
aprianindos:

iheartmyart:

Designersgotoheaven.com - Kama-Sutra penguin cover by Malika Favre
(via andreirobu)

yang ini lebih bagus drpd yg warna item-putih-kuning-pink 

wah bagus! (yap, diluar konteks ini adalah kama sutra)

aprianindos:

iheartmyart:


Designersgotoheaven.com - Kama-Sutra 
penguin cover by Malika Favre

(via andreirobu)

yang ini lebih bagus drpd yg warna item-putih-kuning-pink 

wah bagus! (yap, diluar konteks ini adalah kama sutra)

(Source: cirox)

11:10 pm
mencuciotak:

-sur:

Bertransit
MRT Jakarta terancam batal. Sebabnya sedikit lucu; tarif. Menteri Keuangan enggan subsidi. Mungkin dampak lain dari otonomi. Yang lain bicara tentang aspek sosial. Keberadaannya seakan melegalilasi penggusuran yang mungkin telah ditunggu-tunggu. Entah oleh siapa.
Tapi saya kira ada hal-hal mendasar yang dilupakan. Gunting pita MRT bukan perkara tarif atau gusur-menggusur.
Lima tahun lebih sejak saya keluar pagar dan tinggal di luar Jakarta. Terhitung delapan belas tahun mengecap pahit-manis hidup Jakarta. Ketika Transjakarta berjalan, saya termasuk yang merasakannya sejak awal. Menjalani saja. Cuma berpikir; bis ini lebih besar, ber AC, dengan rute luas ke pelosok Jakarta. Belakangan, jalan tak kurang macet. Antrian panjang hampir satu jam juga terjadi. Semua orang mengeluh, tapi tak ada titik terang. Kesabaran antri berdiri tentu bukan solusi.
Kini, MRT mengemuka. Katanya Jakarta dengan jumlah penduduknya, mestinya malu tidak punya MRT. Saya kira keberadaan MRT bukan tentang gengsi suatu kawasan terkait dengan jumlah penduduk yang ditampungnya. MRT atau Mass Rapid Transit bukan sekedar pengganti ojek jarak jauh dengan harga tiket pas tanpa perlu tawar-menawar. MRT juga bukan tentang ada atau tidak ada. Jika menilik dari namanya sendiri, MRT  adalah satu cara bergerak skala besar dengan sistem transit. Sistem transit memiliki implikasi signifikan terhadap kondisi ruang dimana ia berdiri.
Kenapa bertransit?
Sistem ini dipercaya dapat mengontrol pertumbuhan kota. Arah perkembangan kota dipusatkan mengacu pada titik-titik transit. Titik tersebut memiliki radius yang memungkinkan akses nyaman bagi pejalan kaki (350 meter atau 1/4 mil). Kesempatan untuk membuat kawasan padat terpadu juga dimungkinkan oleh radius ini. Kawasan sekitar titik transit dapat dioptimalkan menjadi area serba ada dengan berbagai fungsi sehingga menciptakan kawasan yang efektif dan efisien. Compact development- bahasa susahnya.
Bagaimana bertransit?
Minggu pagi. Gubernur Jokowi ingin jalan-jalan bersama keluarga ke Plaza Indonesia. Rafi Ahmad janjian dengan Yuni Shara di Grand Indonesia. Asmiranda dan pacarnya mau kencan di Sarinah. Koboi junior ada latihan futsal di Taman Menteng. Mereka sama-sama tinggal dekat Monas. Tujuan mereka sama, ke daerah Hotel Indonesia. Masing-masing memiliki alat angkut sesuai kebutuhan. Pak Jokowi membawa mobil karena ia pergi bersama keluarga. Rafi Ahmad naik sepeda. Asmiranda dan pacarnya boncengan motor berdua. Koboi junior berjalan kaki sekalian pemanasan.
Karena tinggal di kawasan Monas, mereka naik MRT dai halte Monas ke halte Bundaran HI.
Apakah sesederhana itu?
MRT adalah tentang transit.
Pak Jokowi hanya menggunakan mobil sampai halte Monas. Ia parkirkan mobilnya dan melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Rafi menggenjot sepedanya. Ia butuh ruang yang nyaman untuk bersepeda di jalan raya. Ia ingin memarkirkan sepedanya dengan aman. Lalu ia melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Asmirandah dan pacarnya melaju di atas dua roda hingga halte Monas. Lalu dua sejoli ini parkir dan melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Koboi Junior melangkah beriringan. Bocah-bocah lucu ini butuh ruang pejalan kaki yang nyaman. Mereka juga memiliki pilihan untuk menaiki angkutan umum untuk sampai dengan selamat di depan halte Monas. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Siklus ini terjadi kembali ketika mereka tiba di Halte Bundaran HI menuju tujuan masing-masing. Kemudian mereka harus mengalami hal yang sama untuk bisa PULANG.
Saya kira, transit adalah tentang budaya. Apakah warga Jakarta siap untuk membuka pintu mobil bukan di depan pintu masuk mall? Apakah warga Jakarta siap bersepeda di jalan raya? Apakah trotoar untuk pejalan kaki bebas lubang dan kendaraan parkir? Apakah halte-halte bus sudah digunakan dengan optimal?
Untuk menjawab itu semua, pengetahuan tentang bertransit adalah penting. Keberadaan Transjakarta harusnya bisa menjadi BRT (Bus Rapit Transit) tapi kenyataannya tidak didukung oleh sistem transit itu sendiri. Dinas yang mengelola trotoar (Dinas Pertamanan) seperti lupa mengobrol dengan perencana Transjakarta hingga banyak ditemukan akses masuk Transjakarta menutupi jalur pejalan kaki (setidaknya Transjakarta memaksa kita bisa membaca ‘peta’). Keberadaan MRT diharapkan tidak mengulangi kesalahan serupa. MRT adalah tentang sistem dan budaya, bukan sekedar lubang menuju bawah tanah. Budaya itu dimulai dengan pengetahuan tentang bertransit. Jokowi bersedia naik MRT karena ada akses lift menuju MRT untuk baby strollernya. Rafi bersedia naik MRT karena ada jalur sepeda yang teduh dari panas Jakarta di sepanjang jalan menuju halte. Asmirandah bersedia naik MRT karena ada parkiran aman di dekat halte. Koboi Junior bersedia naik MRT karena jalur pejalan kaki yang aman dan teduh dari panas Jakarta di sepanjang jalan menuju halte. Ini belum bicara soal kelengkapan fasilitas sekitar halte seperti loker dan area tunggu atau meeting point untuk janjian dengan seseorang.
Secara tidak langsung MRT menuntut perbaikan ruang fisik. Di saat yang sama, ia juga membentuk kebiasaan bergerak yang lebih fleksibel. Semakin banyak pilihan bergerak, semakin tinggi daya dukung suatu kota. Maka, secara sederhana pembangunan MRT mesti dibarengi oleh pembangunan kualitas ruang kota yang lebih baik. Saya kira, kualitas ruang kota yang baik perlahan-lahan juga dapat membangun budaya berkota yang lebih baik. Semoga.
 
*sumber dari beberapa lembar awal Planning For Transit-friendly Land Use: a handbook for New Jersey Community. New Jersey: NJ Transit

aduh urban banget deh mbak’e. *ngebales ceritanya

mencuciotak:

-sur:

Bertransit

MRT Jakarta terancam batal. Sebabnya sedikit lucu; tarif. Menteri Keuangan enggan subsidi. Mungkin dampak lain dari otonomi. Yang lain bicara tentang aspek sosial. Keberadaannya seakan melegalilasi penggusuran yang mungkin telah ditunggu-tunggu. Entah oleh siapa.

Tapi saya kira ada hal-hal mendasar yang dilupakan. Gunting pita MRT bukan perkara tarif atau gusur-menggusur.

Lima tahun lebih sejak saya keluar pagar dan tinggal di luar Jakarta. Terhitung delapan belas tahun mengecap pahit-manis hidup Jakarta. Ketika Transjakarta berjalan, saya termasuk yang merasakannya sejak awal. Menjalani saja. Cuma berpikir; bis ini lebih besar, ber AC, dengan rute luas ke pelosok Jakarta. Belakangan, jalan tak kurang macet. Antrian panjang hampir satu jam juga terjadi. Semua orang mengeluh, tapi tak ada titik terang. Kesabaran antri berdiri tentu bukan solusi.

Kini, MRT mengemuka. Katanya Jakarta dengan jumlah penduduknya, mestinya malu tidak punya MRT. Saya kira keberadaan MRT bukan tentang gengsi suatu kawasan terkait dengan jumlah penduduk yang ditampungnya. MRT atau Mass Rapid Transit bukan sekedar pengganti ojek jarak jauh dengan harga tiket pas tanpa perlu tawar-menawar. MRT juga bukan tentang ada atau tidak ada. Jika menilik dari namanya sendiri, MRT  adalah satu cara bergerak skala besar dengan sistem transit. Sistem transit memiliki implikasi signifikan terhadap kondisi ruang dimana ia berdiri.

Kenapa bertransit?

Sistem ini dipercaya dapat mengontrol pertumbuhan kota. Arah perkembangan kota dipusatkan mengacu pada titik-titik transit. Titik tersebut memiliki radius yang memungkinkan akses nyaman bagi pejalan kaki (350 meter atau 1/4 mil). Kesempatan untuk membuat kawasan padat terpadu juga dimungkinkan oleh radius ini. Kawasan sekitar titik transit dapat dioptimalkan menjadi area serba ada dengan berbagai fungsi sehingga menciptakan kawasan yang efektif dan efisien. Compact development- bahasa susahnya.

Bagaimana bertransit?

Minggu pagi. Gubernur Jokowi ingin jalan-jalan bersama keluarga ke Plaza Indonesia. Rafi Ahmad janjian dengan Yuni Shara di Grand Indonesia. Asmiranda dan pacarnya mau kencan di Sarinah. Koboi junior ada latihan futsal di Taman Menteng. Mereka sama-sama tinggal dekat Monas. Tujuan mereka sama, ke daerah Hotel Indonesia. Masing-masing memiliki alat angkut sesuai kebutuhan. Pak Jokowi membawa mobil karena ia pergi bersama keluarga. Rafi Ahmad naik sepeda. Asmiranda dan pacarnya boncengan motor berdua. Koboi junior berjalan kaki sekalian pemanasan.

Karena tinggal di kawasan Monas, mereka naik MRT dai halte Monas ke halte Bundaran HI.

Apakah sesederhana itu?

MRT adalah tentang transit.

Pak Jokowi hanya menggunakan mobil sampai halte Monas. Ia parkirkan mobilnya dan melanjutkan perjalanan dengan MRT.

Rafi menggenjot sepedanya. Ia butuh ruang yang nyaman untuk bersepeda di jalan raya. Ia ingin memarkirkan sepedanya dengan aman. Lalu ia melanjutkan perjalanan dengan MRT.

Asmirandah dan pacarnya melaju di atas dua roda hingga halte Monas. Lalu dua sejoli ini parkir dan melanjutkan perjalanan dengan MRT.

Koboi Junior melangkah beriringan. Bocah-bocah lucu ini butuh ruang pejalan kaki yang nyaman. Mereka juga memiliki pilihan untuk menaiki angkutan umum untuk sampai dengan selamat di depan halte Monas. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan MRT.

Siklus ini terjadi kembali ketika mereka tiba di Halte Bundaran HI menuju tujuan masing-masing. Kemudian mereka harus mengalami hal yang sama untuk bisa PULANG.

Saya kira, transit adalah tentang budaya. Apakah warga Jakarta siap untuk membuka pintu mobil bukan di depan pintu masuk mall? Apakah warga Jakarta siap bersepeda di jalan raya? Apakah trotoar untuk pejalan kaki bebas lubang dan kendaraan parkir? Apakah halte-halte bus sudah digunakan dengan optimal?

Untuk menjawab itu semua, pengetahuan tentang bertransit adalah penting. Keberadaan Transjakarta harusnya bisa menjadi BRT (Bus Rapit Transit) tapi kenyataannya tidak didukung oleh sistem transit itu sendiri. Dinas yang mengelola trotoar (Dinas Pertamanan) seperti lupa mengobrol dengan perencana Transjakarta hingga banyak ditemukan akses masuk Transjakarta menutupi jalur pejalan kaki (setidaknya Transjakarta memaksa kita bisa membaca ‘peta’). Keberadaan MRT diharapkan tidak mengulangi kesalahan serupa. MRT adalah tentang sistem dan budaya, bukan sekedar lubang menuju bawah tanah. Budaya itu dimulai dengan pengetahuan tentang bertransit. Jokowi bersedia naik MRT karena ada akses lift menuju MRT untuk baby strollernya. Rafi bersedia naik MRT karena ada jalur sepeda yang teduh dari panas Jakarta di sepanjang jalan menuju halte. Asmirandah bersedia naik MRT karena ada parkiran aman di dekat halte. Koboi Junior bersedia naik MRT karena jalur pejalan kaki yang aman dan teduh dari panas Jakarta di sepanjang jalan menuju halte. Ini belum bicara soal kelengkapan fasilitas sekitar halte seperti loker dan area tunggu atau meeting point untuk janjian dengan seseorang.

Secara tidak langsung MRT menuntut perbaikan ruang fisik. Di saat yang sama, ia juga membentuk kebiasaan bergerak yang lebih fleksibel. Semakin banyak pilihan bergerak, semakin tinggi daya dukung suatu kota. Maka, secara sederhana pembangunan MRT mesti dibarengi oleh pembangunan kualitas ruang kota yang lebih baik. Saya kira, kualitas ruang kota yang baik perlahan-lahan juga dapat membangun budaya berkota yang lebih baik. Semoga.

 

*sumber dari beberapa lembar awal Planning For Transit-friendly Land Use: a handbook for New Jersey Community. New Jersey: NJ Transit

aduh urban banget deh mbak’e. *ngebales ceritanya

(via rememorari)

10:48 pm 12:27 am

baru aja nonton terminator salvation (kemane aje meee?)

ternyata sedih yah filmnya :’(

intinya yang ngebedain manusia sama mesin itu adalah hati.

yah yang ada mesin2 pake hati kali yah (huft)

kalo ada hati sama yang mesin? oke, abaikan.

dan dengan ini, sudah 2 film manusia bermesin dan sejenisnya yang sukses bikin nangis.

agak aneh sih yah emang.

mungkin timingnya tepat kali yah waktu ntn distric 9 sama terminator salvation lagi melow helow.

November 11, 2012 7:57 pm November 9, 2012 9:47 pm

ayuprissa:

yah pada dasarnya cuma gak pengen di-judge macem-macem aja sih.ihiw.

(Source: monalisamusings)

November 4, 2012 5:17 pm

imperfectwriting:

I went to the mall, and a little girl called me a terrorist. 

My name is Ela.  I am seventeen years old.  I am not Muslim, but my friend told me about her friend being discriminated against for wearing a hijab.  So I decided to see the discrimination firsthand to get a better understanding of what Muslim women go through. 

My friend and I pinned scarves around our heads, and then we went to the mall.  Normally, vendors try to get us to buy things and ask us to sample a snack.  Clerks usually ask us if we need help, tell us about sales, and smile at us.  Not today.  People, including vendors, clerks, and other shoppers, wouldn’t look at us.  They didn’t talk to us.  They acted like we didn’t exist.  They didn’t want to be caught staring at us, so they didn’t look at all. 

And then, in one store, a girl (who looked about four years old) asked her mom if my friend and I were terrorists.  She wasn’t trying to be mean or anything.  I don’t even think she could have grasped the idea of prejudice.  However, her mother’s response is one I can never forgive or forget.  The mother hushed her child, glared at me, and then took her daughter by the hand and led her out of the store. 

All that because I put a scarf on my head.  Just like that, a mother taught her little girl that being Muslim was evil.  It didn’t matter that I was a nice person.  All that mattered was that I looked different.  That little girl may grow up and teach her children the same thing. 

This experiment gave me a huge wakeup call.  It lasted for only a few hours, so I can’t even begin to imagine how much prejudice Muslim girls go through every day.  It reminded me of something that many people know but rarely remember: the women in hijabs are people, just like all those women out there who aren’t Muslim. 

People of Tumblr, please help me spread this message.  Treat Muslims, Jews, Christians, Buddhists, Hindus, Pagans, Taoists, etc., exactly the way you want to be treated, regardless of what they’re wearing or not wearing, no exceptions.  Reblog this.  Tell your friends.  I don’t know that the world will ever totally wipe out prejudice, but we can try, one blog at a time.  

(via hadijan)

October 31, 2012 6:51 am

the-desert-rain:

appreciation post for my baba (and my hand being creepy)

(via hamsterrific)

October 30, 2012 10:17 pm October 28, 2012 2:53 pm

emang angle arab paling oke :3 kyaa~

(via rizkyadevi)

October 22, 2012 7:34 pm
  • aku: ey ini si arabian itu ey (buka fb)
  • ibu: hooo, anak mana tuh?
  • aku: pan anak mesin
  • ibu: oh iya iya
  • aku: pdhl kalo wisudanya brgn mesin sebelah seni rupa bgt loh ey duduknya
  • ibu: trs knp dia blm beres?
  • aku: hemm ta nya susah kali, dan entah knp kynya dosennya knp gtu
  • ibu: oh tau drmn? ngobrol emang?
  • aku: nggak ... cuma mengamati dari jauh saja :D
  • ibu: ... (mungkin dlm hatinya, kasian amat anak gue, gila kali lama2 hahaha)
October 21, 2012 12:31 pm

entah harus senang apa sedih

begitu buka fb dari pc, yang monitornya nyaris 2x lebih besar dari laptop,

muncul sangat besaaaaar tampak depan sang pemilik jambang :))

alhamdulillah, rejeki mah emg udh diatur Allah :)

21.10.12 - cfd. ciwaregu fun day :))